Jumat, 20 November 2015

Analisis Jurnal Tata Kelola Perusahaan

Nama Kelompok :       Alfian Sitio                             (20212613 )
Ayu Widya Lestariningsih      (21212300)
Hapsari Ariskawuri                 (23212304)
Putut Widyatama                    (25212745)
Ria Murniati Wulandari          (26212245)
Ridwan Maryoto                     (26212319)
Wiwit Widiastuti                    (27212762)
                                   
                                   
                                   


Analisis Jurnal Tata Kelola Perusahaan Pada Sektor Industri Dasar dan Kimia

Dalam jurnal yang berjudul “Struktur Tata Kelola Perusahaan dan Luas Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (studi empiris pada Perusahaan Industri Dasar dan Kimia yang terdaftar di BEI)”. Oleh Yoseph Dimas Eo Perwira, Paulus Basuki Hadiprajitno.
            Penelitian bertujuan untuk mengetahui struktur tata kelola perusahaan dan luas tanggung jawab sosial. Populasi dalam penelitian adalah seluruh perusaahaan industri dasar dan kimia yang terdaftar di BEI tahun 2010-2011. Tehnik pengambilan sample adalah purposif sampling dan menggunakan data sekunder dari laporan keuangan. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1.) Variabel dependent, luas pengungkapan yang diukur berdasarkan indeks. (2.) Variabel kontrol, profitabilitas, laverage, dan ukuran perusahaan.
            Hasil dari penelitian ini bahwa dapat disimpulkan : (1.) Variabel komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan namun tidak signifikan. (2.) Variabel komite audit, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan namun tidak signifikan. (3) Penelitian tentang kelola perusahaan dan tanggungjawab sosial perusahaan di Indonesia masih tidak konsisten hasilnya dengan penelitian lain. (4) Pelaksanaan struktur tata kelola perusahaan di Indonesia belum efektif dalam menyeimbangkan nilai sosial dan nilai ekonomi perusahaan.


            Dalam jurnal yang berjudul “Pengaruh Leverage, Free Cash Flow, dan Good Corporate Gofernance terhadap Praktik Perataan Laba pada Perusahaan manufaktur Sektor Indusrti Dasar dan Kimia di Bursa Efek Indonesia”. Oleh Mayasari Tampubolon.
            Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh leverage, free cash flow dan GCG terhadap praktik perataan laba pada perusahaan manufaktur. Tehnik pengambilan sample adalah purposif sampling dan menggunakan data sekunder dari laporan keuangan. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah independen terdiri dari enam variabel yaitu leverage, free cash flow dan good
corporate governance yang diproksikan proporsi dewan komisaris independen, komite
audit, kualitas audit dan kepemilikan manajerial. Hasil dari penelitian ini bahwa dapat disimpulkan bahwa leverage berpengaruh terhadap income smoothing
karena apabila angka leverage yang diukur dengan DER semakin tinggi maka akan
semakin rendah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya


Dalam jurnal yang berjudul “Pelaksanaan Prinsip Transparansi sebagai Salah Satu Bentuk Prinsip Good Corporate Governance pada PT Semen Gresik (Persero) tbk”. Oleh Ruth Tria Enjelina Girsang
            Penelitian bertujuan untuk mengetahui prinsip transparansi sebagai salah satu bentuk prinsip GCG. Tehnik pengambilan sample adalah Pengumpulan Data Primer Diambil melalui pengamatan terlibat dan wawancara langsung kepada responden dalam hal ini karyawan yang bekerja di PT. Semen Gresik (Persero) Tbk guna memperoleh data-data serta informasi yang akurat. Sedangkan, Pengambilan Data Sekunder dilakukan melalui penelusuran bahanbahan pustaka dengan mengutip dan menganalisa peraturan perundang-undangan, artikel, buku, atau jurnal yang berkaitan dengan implementasi prinsip Transparansi. Hasil dari penelitian Ada beberapa hal yang tidak di cantumkan oleh PT Semen Gresik (persero) Tbk. dalam Laporan Tahunan sebagai salah satu wujud dari prinsip Transparansi.


Kesimpulan dari ketiga jurnal diatas, dua diataranya menggunakan jenis data sekunder yang dikumpulkan dengan tehnik dokumentasi laporan keuangan, serta menggunakan tehnik pengambilan sampel yaitu purposif sampling. Variabel yang digunakan adalah variabel independen, dependen dan kotrol. Sedangkan jurnal yang ketiga menggunakan data primerr dan data sekunder, dimana data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan karyawan PT Semen Gresik, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka.



Sabtu, 24 Oktober 2015

TEORI ETIKA DAN PROFESI

A. PENGERTIAN DAN TEORI ETIKA
Etika berasal dari kata ethos sebuah kata dari Yunani, yang diartikan identik dengan moral atau moralitas. Kedua istilah ini dijadikan sebagai pedoman atau ukuran bagi tindakan manusia dengan penilaian baik atau buruk dan bener atau salah. Etika melibatkan analisis kritis mengenai tindakan manusia untuk menentukan suatu nilai benar dan salah dari segi kebenaran dan keadilan.  Jadi ukuran yang dipergunakan adalah norma, agama, nilai positif dan unversalitas. Oleh karena itu, istilah etika sering dikonotasikan dengan istilah-
istilah: tata krama, sopan santun, pedoman moral, norma susila, dan lain-lain yang berpijak pada norma-norma tata hubungan antar unsur atau antar elemen didalam masyarakat dan lingkungannya.
  1. Prinsip-Prinsip Etika
  2. Tanggung jawab
Bertanggung jawab dalam pelaksanaan pekerjaan  dan terhadap hasilnya serta profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat  pada umumnya.
  1. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
2. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri  kebebasan dalam menjalankan profesinya.
  1. Basis Teori Etika
  2. Teori teleologi
Teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu telos. Menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan atau tindakan diperoleh dengan dicapainya tujuan dari perbuatan itu sendiri. Ada dua macam aliran dalam teori teleologi ini yaitu: utilitarisme dan egoisme, pengertiannya dibahas berikutnya.
  1. Teori hak
Teori Hak merupakan suatu aspek  dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
2. Teori Keutamaan (Virtue)
Adalah memandang  sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh keutamaan : kebijaksanaan, keadilan, suka bekerja keras, dan hidup yang baik.
3. Dilema Etika
Dilema etika merupakan situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia harus membuat keputusan mengenai perilaku yang patut. Contoh sederhananya adalah jika seseorang menemukan cincin berlian, ia harus memutuskan untuk mencari pemilik cincin atau mengambil cincin tersebut. Para auditor, akuntan, dan pebisnis lainnya, menghadapi banyak dilema etika dalam karier bisnis mereka. Terlibat dengan klien yang mengancam akan mencari auditor baru jika tidak diberikan opini unqualified akan menimbulkan dilema etika jika opini unqualified tersebut ternyata tidak tepat untuk diberikan.
4. Egoism
Menurut Rachels (2004: 146) artinya teori mengenai bagaimana kita seharusnya bertindak, tanpa memandang bagaimana kita biasanya bertindak. Menurut teori ini hanya ada satu prinsip perilaku yang utama, yakni prinsip kepentingan diri, dan prinsip ini merangkum semua tugas dan kewajiban alami seseorang.
5. Utilitarism
Utilitarisme adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh David Hume. Dalam teori ini suatu perbuatan atau tindakan dapat dikatakan baik jika dapat menghasilkan manfaat. Akan tetapi bukan bermanfaat untuk pribadi seseorang saja, tapi untuk sekelompok orang atau sekelompok masyarakat.
6. Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani deon, yang berarti kewajiban. Etika deontologi memberikan pedoman moral agar manusia melakukan apa yang menjadi kewajiban sesuai dengan nilainilai atau norma-norma yang ada. Suatu perilaku akan dinilai baik atau buruk berdasarkan kewajiban yang mengacu pada nilai-nilai atau norma-norma moral. Tindakan sedekah kepada orang miskin adalah tindakan yang baik karena perbuatan tersebut merupakan kewajiban manusia untuk melakukannya. Sebaliknya, tindakan mencuri, penggelapan dan korupsi adalah perbuatan buruk dan kewajiban manusia untuk menghindarinya. Etika deontologi tidak membahas apa akibat atau konsekuensi dari suatu perilaku. Suatu perilaku dibenarkan bukan karena perilaku itu berakibat baik, tetapi perilaku itu memang baik dan perilaku itu didasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan.
7. Virtue Etics
Virtue Etics atau teori keutamaan dapat didefinisikan sebagai cara pikir seseorang yang memungkinkan dia untuk bertindak baik secara moral. Teori ini cenderung memandang sikap atau akhlak seseorang.
B. PERILAKU ETIKA DALAM PRODESI AKUNTANSI
  1. Akuntansi Sebagai Profesi Dan Peran Akuntan
Akuntan sebagai suatu profesi dituntut untuk mengikuti perkembangan dunia yang semakin global. Profesi akuntan Indonesia di masa yang akan datang menghadapi tantangan yang semakin berat, terutama jika dikaitkan dengan berlakunya kesepakatan Internasional mengenai pasar bebas. Profesi akuntan Indonesia harus menanggapi tantangan tersebut secara kritis khususnya mengenai keterbukaan pasar jasa yang berarti akan member peluang yang besar sekaligus memberikan tantangan yang semakin berat.
Menurut Machfoedz (1997), profesionalisme suatu profesi mensyaratkan tiga hal utama yang harus dipunyai oleh setiap anggota profesi tersebut, yaitu: keahlian (skill), karakter (character), dan pengetahuan (knowledge). Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut. Dari profesi akuntan publik inilah masyarakat kreditur dan investor mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan oleh manajemen perusahaan.
Peran akuntan antara lain :
  1. Akuntan Publik (Public Accountants)
Akuntan publik atau juga dikenal dengan akuntan eksternal adalah akuntan independen yangmemberikan jasa-jasanya atas dasar pembayaran tertentu.
  1. Akuntan Intern (Internal Accountant)
Akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Akuntan intern ini disebut juga akuntan perusahaan atau akuntan manajemen.
  1. Akuntan Pemerintah (Government Accountants)
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya dikantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK).
  1. Akuntan Pendidik
Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, dan menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi.
  1. Ekpetasi
Masyarakat umumnya mempersepsikan akuntan sebagai orang yang profesional dibidang akuntansi. Ini berarti bahwa mereka mempunyai sesuatu kepandaian yang lebih dibidang ini dibandingkan dengan orang awam. Selain itu masyarakat pun berharap bahwa para akuntan mematuhi standar dan tata nilai yang berlaku dilingkungan profesi akuntan, sehingga masyarakat dapat mengandalkan kepercayaannya terhadap pekerjaan yang diberikan. Dengan demikian unsur kepercayaan memegang peranan yang sangat penting dalam hubungan antara akuntan dan pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini, seorang akuntan dipekerjakan oleh sebuah organisasi atau KAP, tidak akan ada undang-undang atau kontrak tanggung jawab terhadap pemilik perusahaan atau publik.Walaupun demikian, sebagaimana tanggung jawabnya pada atasan, akuntan professional publik mengekspektasikannya untuk mempertahankan nilai-nilai kejujuran, integritas, objektivitas, serta pentingannya akan hak dan kewajiban dalam perusahaan.
  1. Nilai-Nilai Etika Vs Teknik Akuntansi/Auditing
Sebagain besar akuntan dan kebanyakan bukan akuntan memegang pendapat bahwa penguasaan akuntansi dan atau teknik audit merupakan sejata utama proses akuntansi. Tetapi beberapa skandal keuangan disebabkan oleh kesalahan dalam penilaian tentang kegunaan teknik atau yang layak atau penyimpangan yang terkait dengan hal itu. Beberapa kesalahan dalam penilaian berasal dari salah mengartikan permasalahan dikarenakan kerumitannya, sementara yang lain dikarenakan oleh kurangnnya perhatian terhadap nilai etik kejujuran, integritas, objektivitas, perhatian, rahasia dan komitmen terhadap mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan diri sendiri.
  1. Integritas, setiap tindakan dan kata-kata pelaku profesi menunjukan sikap transparansi, kejujuran dan konsisten.
  2. Kerjasama, mempunyai kemampuan untuk bekerja sendiri maupun dalam tim.
  3. Inovasi, pelaku profesi mampu memberi nilai tambah pada pelanggan dan proses kerja dengan metode baru.
  4. Simplisitas, pelaku profesi mampu memberikan solusi pada setiap masalah yang timbul, dan masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana. Teknik akuntansi (akuntansi technique) adalah aturan aturan khusus yang diturunkan dari prinsip prinsip akuntan yang menerangkan transaksi transaksi dan kejadian kejadian tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.
  5. Perilaku Etika Dalam Pemberian Jasa Akuntan Publik
Masyarakat, kreditur dan investor mengharapkan penilaian yang bebas serta tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan oleh manajemen perusahaan. Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai jasa bagi masyarakat, antara lain:
  1. Jasa Assurance, jasa profesional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan.
  2. Jasa Atestasi Jasa atestasi terdiri dari audit, pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang disepakati (agreed upon procedure). Jasa atestasi adalah suatu pernyataan pendapat, pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai dalam semua hal yang material dan kriteria yang telah ditetapkan.
  3. Jasa Non Assurance Jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan, atau bentuk lain keyakinan. Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari prinsip etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
III.    KODE ETIK PROFESI AKUNTANSI
Akuntan sebagai suatu profesi untuk memenuhi fungsi auditing harus tunduk pada kode etik profesi dan melaksanakan audit terhadap suatu laporan keuangan dengan cara tertentu. Etik sebagai suatu prinsip moral dan perbuatan yang menjadi landasan bertindaknya seseorang sehingga apa yang dilakukannya dipandang oleh masyarakat sebagai perbuatan yang terpuji dan meningkatkan martabat dan kehormatan seseorang. Etik yang telah disepakati bersama oleh anggota suatu profesi disebut dengan Kode Etik Profesi.
Akuntan sebagai suatu profesi mempunyai kode etik profesi yang dinamakan Kode Etik Akuntan Indonesia. Khusus untuk akuntan public terdapat Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang sebelumnya disebut Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik. Kode Etik Profesi Akuntan Publik adalah aturan etika yang harus diterapkan oleh anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) yang sebelumnya dinamakan Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Publik (IAI KAP) dan staf profesional (baik yang anggota IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang bekerja pada satu Kantor Akuntan Publik/ (KAP).
  1. Aturan Dan Interpretasi Etika
Aturan Etika Akuntan Publik Indonesia telah diatur dalam SPAP dan berlaku sejak tahun 2000. Aturan etika IAI-KAP ini memuat lima hal:
  1. Standar umum dan prinsip akuntansi
  2. Tanggung jawab dan praktik lain
  3. Tanggung jawab kepada klien
  4. Independensi, integritas, dan objektivitas
  5. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.
Fungsi Etika
  1. Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan.
  2. Etika ingin menampilkanketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
  3. Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika :
  1. Kebutuhan Individu
  2. Tidak Ada Pedoman
  3. Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi
  4. Lingkungan Yang Tidak Etis
  5. Perilaku Dari Komunitas
Sanksi Pelanggaran Etika :
  1. Sanksi Sosial
Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yangdapat ‘dimaafkan’
  1. Sanksi Hukum
Skala besar, merugikan hak pihak lain.
Jenis-jenis Etika
  1. Etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar
  2. Etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus.
Egoism
Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya – intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umunya dan hanya memikirkan diri sendiri
Egois ini memiliki rasa yang luar biasa dari sentralitas dari ‘Aku adalah’:. Kualitas pribadi mereka Egotisme berarti menempatkan diri pada inti dunia seseorang tanpa kepedulian terhadap orang lain, termasuk yang dicintai atau dianggap sebagai “dekat,” dalam lain hal kecuali yang ditetapkan oleh egois itu.
Teori eogisme atau egotisme diungkapkan oleh Friedrich Wilhelm Nietche yang merupakan pengkritik keras utilitarianisme dan juga kuat menentang teori Kemoralan Sosial. Teori egoisme berprinsip bahwa setiap orang harus bersifat keakuan, yaitu melakukan sesuatu yang bertujuan memberikan manfaat kepada diri sendiri. Selain itu, setiap perbuatan yang memberikan keuntungan merupakan perbuatan yang baik dan satu perbuatan yang buruk jika merugikan diri sendiri.
Kata “egoisme” merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno – yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern – ego (εγώ) yang berarti “diri” atau “Saya”, dan-isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya. Dengan demikian, istilah ini secara etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme filosofis.
B. PENGERTIAN DAN TEORI PROFESI
A. Pengertian Profesi
Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang dalam bahasa Yunani adalah “Επαγγελια”, yang bermakna: “Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen”.
Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer,teknikdan desainer
Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah: sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi. Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus  dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama.
B. Karakteristik Profesi
–
Keterampilan yang berdasarkan pada pengetahuan teoritis : Professional dapat diasumsikan mempunyai pengetahuan teoritis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasarkan pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktik.
– Assosiasi professional : Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya.
–  Pendidikan yang ekstensif : Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi.
–  Ujian kompetensi : Sebelum memasuki organisasi professional, biasanya ada persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoritis.
– Pelatihan institusional : Selain ujian, biasanya dipersyaratkan untuk mengikuti pelatihan institusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh organisasi.
– Lisensi : Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
– Otonomi kerja : Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoretis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar.
– Kode etik : Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.

C. Ciri – Ciri Profesi
Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :
– Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
– Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
– Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
– Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
– Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

PROFESIONALISME
A. Pengertian Professional / Professionalisme
 
Adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi.  Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang – senang atau untuk mengisi waktu luang.
B. Ciri – Ciri Profesionalisme
Kaum profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata – rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu. Standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik.
C. Perbedaan Profesi & Profesional :
Profesi :
– Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.
– Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
– Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.
– Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.
Profesional :
– Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.
– Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.
– Hidup dari situ.
– Bangga akan pekerjaannya.
D.Kode Etik Profesi / Profesionalisme
Adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Kode Etik :
–          Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
–          Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
–          Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
–          Untuk meningkatkan mutu profesi.
–          Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
–          Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
–          Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
–          Menentukan baku standarnya sendiri.
Prinsip Etika Profesi :
Tanggung Jawab
–  Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.

Sumber:
Abdullah, Syukry dan Abdul Halim. 2002. Pengintegrasian Etika dalam Pendidikan dan Riset Akuntansi . Kompak, STIE YO.
Agoes Sukrisno dan Ardana, I Centik (2011), Etika Bisnis dan Profesi-Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya, Penerbit Salemba Empat Jakarta.
Arfan Ikhsan Lubis, 2010. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat.
Dr. H. Budi Untung, SH., MM. 2012. Hukum dan Etika Bisnis.Jogjakarta :Andi Yogyakarta.
Silvia Syahraini . Pemetaan Perilaku Mahasiswa Ekonomi Ditinjau dari Perspektif Etika Teleologi. 2010

Selasa, 07 Juli 2015

Pernikahan sejenis



        Same-sex marriage ( also known as gay marriage ) is a marriage between two people who have sex and / or gender identity .This marriage sebernarnya already allowed in 15 other countries .Same-sex marriage can be conducted in a civil ceremony in a setting that is secular or religious . Various religious communities around the world to support permit same-sex couples to marry or perform same-sex marriage ceremonies , such as the Swedish Church , Quakers , Episcopalians United States , Metropolitan Community Church , United Church of Christ , United Church of Canada , Buddhism in Australia , and Reform Jews conservative , Wicca , Druid , Unitarian Universalist , and religious traditions of Native Americans with two - spirit , as well as the various Christian, Muslim , Hindu , Buddhist , and Jewish groups and various religious and other small denominations progressive and modern .
               as is known same-sex marriage is not allowed justruu in Indonesia. according to article 1 of Law No. 1 of 1984 on marriage, said marriage is a bond between the inner and outer man with a woman as husband and wife. Besides, Article 32 paragraph (1) law no.23 of 2006 on population administration says marriage is only recognized by the state of marriage between men and women. of the marriage between same-sex religion has expressly prohibited. it diihat in surah al-araaf ayat 80-84
               so in my opinion it was banned same-sex marriage. because they violate the laws and banned from the religion of Islam.
not only that, if they do the same-sex marriage, it seems they will not have children, which, as desired by the couple that have children is the best gift we get.
many people in Indonesia who disagree about same-sex marriage legislation and many also agree on the law.I think it's better these laws do not passed.

Senin, 18 Mei 2015

Artikel Conditional if

Seeing small black dots? 
Time to get your eyes checked 
The next time you look in the mirror, take a closer look at your eyes to see if you can spot any small black dots – “floaters”. Dr. Ian Yeo, consultant ophthalmologist for Vitreo Retinal Service at the Singapore National Eye Center reports.
Floaters and retinal detachment
As we age, it is inevitable that we will start experiencing floaters because of the degeneration of the vitreous (or jelly) within the eye. Most patients start experiencing floaters in their 40s, but those who are myopic or have familial vitreoretinal weakness may notice them earlier. Floaters can come in various shapes and sizes and have been described in multiple colors. Most patients identify their floaters as small dots or as linear figures, often black or gray.
In most cases, floaters are caused by the vitreous breaking down and are generally harmless, but in some it may be more sinister. This is because sudden onset of floaters may coincide with the development of a retinal tear, which may result in a retinal detachment – a potentially blinding problem.
Who is at risk ?
In retinal detachment, the retina separates from the outer layers of the eye, thus losing its function. Anyone can potentially develop a retinal tear and detachment as the vitreous degenerates. However, the risk increases in patients with high myopia, a family history of vitreoretinal weakness/retinal detachment, ocular trauma and previous ocular surgery, and if one has had a retinal detachment or laser treatment for retinal holes in the past.
What are the signs of a retinal detachment?
Sudden appearance of floaters may herald the onset of retinal detachment. In some eyes, sudden flashes of light (a sensation of flashing lights emitting from within the eye, like a camera flash) and progressive blurred vision might signal the start of retinal detachment. This blurred vision has been described as a “curtain effect” where the normally clear image progressively becomes distorted then “blackened” out – like a curtain being drawn across your visual area.
What should you do when you start to experience floaters?
There is no need to panic when you see floaters, especially if you have been seeing them for years. A thorough examination of the retina by an ophthalmologist after dilatation of the pupil is necessary to determine the cause of the symptoms.
However, if there is a sudden and very marked increase in floaters, especially associated with flashes and blurred vision, you should be examined immediately. Your eye doctor will have your eyes dilated to inspect the retina. This inspection is to detect any retinal holes and associated thin and weak areas of the retina.
What can be done if we find a retinal tear?
If the retina is torn but detachment has not yet occurred, prompt treatment may prevent the occurrence of a complete detachment. The retina can be repaired using a laser. The laser treatment is done as an outpatient procedure, sealing the tear and reducing the risk of progression into a retinal detachment. During the procedure, local anesthetic is applied onto the eye and a lens is place over the front of the eye to help direct laser into the eye. There is a slight pain as the laser is applied but the patient is well immediately after the procedure.
However, if the tear is large and has already progressed into a retinal detachment, the patient will need to undergo either a scleral buckling (external procedure) or a vitrectomy (internal procedure) operation or both. These are major forms of eye operation and the eye will take at up to three months to recover. There may be a need to fill the eye with gas or silicon oil to flatten the retina; as a result, the patient may need to adopt a facedown posture for a few weeks.
What is the success and prognosis after surgery?
The success of surgery depends on the complexity and duration of retinal detachment. In early and simple retinal detachments, the success rate in one operation is close to 90 percent. However, complex or late presenting retinal detachments may need multiple staged procedures and have lower success rates.
The final visual outcome will depend on whether the macula (center of the eye) is involved and on the complexity and duration of the retinal detachment. Once the macula is detached and if the retina has been off for a long time, the visual outcomes will be poor. One may only recover navigational vision and not restore the original vision.
Concluding Remarks
Remember, if floaters develop suddenly, it could be serious – get your eyes checked immediately. Early detection allows retinal tears to be sealed with laser and prevents progression to a retinal detachment – which will mean major surgery with prolonged recovery.
Singapore National Eye Centre performs more than 1,200 vitreoretinal operations annually, and has state-of-the art digital imaging techniques and equipment facilitating rapidly evolving diagnostic and therapeutic modalities. For more information, see our website http://www.snec.com.sg or call 65-6100 9393. cFlyFreeForHealth2009
From the article about there is sentences containing Conditional If:
  • if you can spot any small black dots
  • if one has had a retinal detachment or laser treatment for retinal holes in the past
  • if you have been seeing them for years
  • if there is a sudden and very marked increase in floaters
  • If the retina is torn but detachment has not yet occurred, prompt treatment may prevent the occurrence of a complete detachment.
  • if the tear is large and has already progressed into a retinal detachment
  • if the retina has been off for a long time, the visual outcomes will be poor
  • if floaters develop suddenly, it could be serious – get your eyes checked immediately
Source :
http://www.thejakartapost.com/news/2009/02/25/seeing-small-black-dots-time-get-your-eyes-checked.html