Tawuran saat ini sudah tidak lagi menjadi
pemberitaan dan pembicaraan yang asing lagi di telinga kita. Bahkan, hampir
setiap hari ada saja media yang menayangkan kasus-kasus tawuran. Tawuran yang
berkaitan dengan tindak kekerasan bisa jadi di kalangan pelajar terutama yang
notabenenya ada generasi bangsa yang akan mengambil alih tempat kepemimpinan
nantinya, apabila mereka sekarang sudah terbiasa dengan tindak kekerasan maka
bagaimana jadinya bangsa kita ini nantinya.
Tawuran pelajar bukan hal yang bisa di anggap enteng, tawuran pelajar sekarang
tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja malainkan juga menjalar
kedaerah-daerah. Permasalahan remeh dapat menyuluh pertengkaran individual yang
melanjut menjadi perkelahian massal dan tak jarang melibatkan penggunaan
senjata tajam, senjata api dan sebagainya.
Kasus tawuran tidak hanya terjadi di golongan remaja tingkat sekolah saja tapi
baru-baru ini juga terjadi tawuran antar mahasiswa.
Dewasa ini, kekerasan sudah dianggap sebagai pemecah masalah yang sangat
efektif yang dilakukan oleh para remaja. Hal ini seolah menjadi bukti nyata
bahwa seorang yang terpelajar pun leluasa melakukan hal-hal yang bersifat
anarkisme dan premanisme. Tentu saja perilaku buruk ini tidak hanya merugikan
orang yang dalam perkelahian itu sendiri tetapi juga merugikan orang lain yang
tidak terlibat secara langsung.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa itu tawuran?
2.
Apa yang menjadi penyebab terjadinya tawuran?
3.
Apa dampak dari tawuran?
4.
Apa solusi yang menghentikan tawuran agar tidak semakin menjadi?
C.
TUJUAN penulisan
Menurut latar belakang diatas, tujuan-tujuan penulisan Karya Tulis ini adalah
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui factor-factor yang mempengaruhi tawuran antar pelajar.
2.
Untuk mengetahui dampak-dampak dari tawuran antar pelajar.
3.
Untuk mengetahui apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasi agar tawuran
antar pelajar tidak terjadi.
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pengertian tawuran pelajar
Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran” dapat diartikan sebagai
perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah
seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah
perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut
dilakukan oleh orang yang sedang belajar.
Jadi tawuran secara luas adalah tindakan agresi (perkelahian) yang dilakukan
oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya yang dimaksudkan untuk
menyebabkan penderitaan /menyakiti orang lain bahkan merusak.
Secara psikologi perkelahian yang melibatakan pelajar usia remaja di golongkan
sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (jurvinile delygency). Kenakalan
remaja dalam hal perkelahian dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi
yaitu situasional dan sistematik.
1.
Delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang
“mengharuskan” mereka untuk berkelahi, keharusan itu biasanya muncul akibat
adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
2.
Delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada dalam
suatu organisasi tertentu atau genk. Disini ada aturan, norma dan kebiasaan
tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk perkelahian. Sebagai anggota
tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang diharapkan sekelompoknya.
Seperti yang kita ketahui, pada masa remaja seorang remaja akan cenderung
membuat sebuah genk yang mana dari pembentukan genk inilah para remaja bebas
melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi karena
ia berada di lingkup kelompok teman sebayanya.
Kapan
biasanya pelajar melakukan tawuran?
1.
Saat pertandingan bola antar sekolah ini adalah hal yang kerap terjadi ketika
tim sepakbola satu kalah, maka sporternya akan melakukan kerusuhan terhadap
lawannya yang akan menyebabkan terjadinya kerusuhan antar sporter sepakbola
kedua sekolah tersebut.
2.
Saat ulang tahun sekolah, ketika sebuah sekolah berulang tahun, para siswa
merayakan dengan menggelar kegiatan pensi atau pentas seni. Pada pensi ini
biasanya menggelar suatu pergelaran konser. Ditengah-tengah konser tersebut
biasanya menyusup dari siswa sekolah lain yang membuat rusuh dan menyebabkan
terjadinya perkelahian diantara penonton pensi tersebut.
3.
Menjelang hari libur panjang. Saat sehari menjelang hari libur, para siswa juga
merencanakan penyerangan ke berbagai sekolah lain yang dianggap sebagai musuh
sekolah tersebut.
4.
Setelah diumumkan hasil ujian nasional(UN). Inilah yang paling bodoh dari
segala penyebab tawuran. Tiga tahun bersekolah manuntut ilmu, diakhiri dengan
kegiatan yang sangat tidak manusiawi. Bertawuran setelah diumumkan hasil UN
akan menyebabkan kematian apabila tidak dapat bertahan. Walaupun dia bisa
bertahan, siswa tersebut bisa jadi akan dikeluarkan dari sekolahnya ataupun
siswa tersebut tidak diperbolehkan lanjut ke tingkat (jenjang) selanjutnya.
B.
Faktor-faktor penyebab terjadinya tawuran
Factor internal dan factor eksternal, yang pertama factor internal adalah
factor yang berlangsung melalui proses internilisasi diri yang keliru oleh remaja
dalam menanggapi miliu disekitarnya dan semua pengaruh dari luar. Perilaku ini
merupakan reaksi ketidakmampuan dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan
sekitar yang dihadapi. Sedangkan yang kedua, factor eksternal yang terdiri dari
beberapa bagian diantaranya:
1.
Factor keluarga
Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orang tua diterapkan.
Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya
maka setelah ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan
karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak
harmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan yang dilakukan oleh
pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak
menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya
fisikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
2.
Factor lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan bisa berupa bangunan sekolah yang
tidak memenuhi persyaratan, tanpa halaman
bermain yang cukup luas, tanpa ruangan olahraga, minimnya fasilitas ruang
belajar, jumlah murid di dalam kelas yang terlalu banyak dan padat, vertiliasai
dan sonitasi yang buruk dan lain sebagainya.
3.
Factor Lingkungan
Lingkungan yang tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan
perkembangan remaja, seorang anak remaja yang belum mempunyai pengetahuan cukup
mengenai pengetahuan social dapat dengan mudah dipengaruhi lingkungan sekitar.
C.
Dampak Tauran Antar Pelajar
Fenomena tawuran yang terjadi di Indonesia beberapa pekan terakhir membuka mata
kita kembali akan maraknya kekerasan dalam
pergaulan social remaja pelajar Indonesia yang lama sempat tenggelam ditengah
hirut pikuk carut marut pendidikan nasional. Bila dicermati, respon masyarakat
awam maupun kalangan pendidikan terhadap fenomena tawuran selalu saja
mengkambinghitamkan problem-problem social diluar sekolah yang mempengaruhi
pembentukan perilaku negative pelajar. Disinilah letak penyimpangan intepretasi
social yang terkadang mewujud kepada pemanangan yang selama ini terbukti tidak
efektif mengurangi angka kejadian tawuran pelajar di Indonesia. Seorang
psikologi tersohor, maslow, mengkategorikan beberapa motif perilaku kepada bangunan
piramida motivasi manusia. Dalam teori motivasinya, Maslow menyebutkan bahwa
salah satu motivasi tindakan manusia adalah untuk memperoleh pengakuan
eksistensial dari sesamanya. Disinilah titik penting yang sering terlepas dari
kesadaran kritis kita dalam menyeroti fenomena tawuran antar pelajar selama
ini. Pelajar adalah manusia yang hidup dalam situasi transisi antara dunia anak
menuju dewasa. Disinilah ruang dimana seorang manusia remaja mulai menyadari
kebutuhan-kebutuhan sosialnya untuk diterima sekaligus diakui oleh komunitas
masyarakat disekitarnya.